Maharika’s


TTM (Tulisan Tengah Malam)
Juli 18, 2008, 11:25 am
Diarsipkan di bawah: Refleksi

Tengah malam, mataku masih melek memelototi layar komputer setelah seharian berkubang dalam seminar bersama kawan-wakanku dari China dan Jerman. Kafein di secangkir cappucino yang kuteguk siang tadi agaknya masih berpengaruh di otak ini yang menggiringku untuk meluangkan waktu menyisiri tulisan-tulisan yang bertebaran dalam mailing list-mailing list. Istriku sedang berkongres di Dresden sana, yang tentu saja menjadikan malam-malamku ini sepi. Apalagi anak-anak telah tidur kelelahan setelah seharian bermain di rumah “saudara” (ketemu di Jerman) yang menolongku menjemput mereka dari sekolah dan kindergarten.
Tengah malam, jam 12, mataku masih melek yang membuatku gatal untuk senam jari mengetikkan bualan dan luapan emosional yang tertekan.

Kadang, atau malah sering kali, aku tidak mudeng dengan berbagai kontradiksi yang memasungku setelah aku membaca tulisan-tulisan di milis atau berita-berita di koran-koran. Rasanya, kepingin aku, sehari saja, membuang semua tulisan dan membebaskan diri dari belenggu rangkaian makna yang sambung menyambung itu. Kepingin rasanya, seperti sebuah harddisk komputer, aku ingin memformat ulang otakku yang mungkin telah penuh berisi junkfiles, seperti komputerku yang berkali-kali harus di-boot ulang agar bisa berjalan lumayan mulus. Ingin aku, menutup semua sambungan makna-makna kata-kata itu, yang bagiku menjadi semacam narasi yang sudah ketahuan ujung pangkalnya, dan merangkai satu per satu kembali agar membuahkan makna yang sama sekali baru, atau tidak bermakna sama sekali. Ingin aku membunuh makna-makna dan mencabuti akar-akar kata-kata itu agar aku bisa menuai barang baru yang tidak bisa aku duga apa bentuk dan ujudnya. Bagiku, keterkejutan itu adalah sebuah nikmat tersendiri yang barangkali hampir setara dengan format ulang bagi sebuah komputer yang dibikin dengan system jangkrik ini. Tapi, apalah dayaku. Setiap kali aku berusaha untuk melenyapkan diri dari tulisan-tulisan itu, semakin nyaring pula gaung makna itu menggedor telingaku. Semakin aku tutup mata, semakin terbayang pula tarian kata-kata. Semakin aku menjauhi papan ketik komputerku, semakin sering detak tuts itu menghantui malam-malamku.

Tengah malam, pukul 12 lebih sedikit. Mataku masih melek, seger waras tertambat kofein Capuchino siang tadi.

Berapa kali aku sudah posting ke berbagai milis, ke rektorku, ke teman-teman, ke sanak kadang. Atau sekedar rasan-rasan, gethok tular, sambung rasa, silaturahmi, untuk mencari makna sejati kehidupan. Mencari jawab kenapa agamaku, sekarang sedang menjalani lelakon yang sayangnya bukanlah lelakon yang sedang laku. Banyak orang punya pendapat, punya analisis, itu semua gara-gara si Bush babahnya Amerika itu. Amerika yang sok imperialis, yang suka membela Israel walaupun sesalah apapun negeri boneka itu. Amerika yang mengaku sok paling jago yang maunya menang sendiri. Irak dijajah, Iran sebentar lagi, Syiria diintimidasi, Indonesia dibumbu-bumbui supaya berkelahi sendiri-sendiri. Yah, mungkin ada betulnya tapi bagiku, analisis ini sama saja seperti mengiris roti tawar pakai pisau kethul, yang bikin ambyar tidak karuan. Semakin kita ubek-ubek semakin ambyar apa yang kita punya. Kenapa? Sederhana juga. Analisis itu sama dengan kalau kita mogok tidak mau makan di McDonald’s, dan yang kelimpungan dan kena pecat, ya teman-teman kita sendiri.
Atau justru menyalahkan sejarah. Lha wong kita dijajah sekian ratus tahun, dibikin mandul, dikuras kekayaan harta benda maupun kebudayaan. Ya ada benernya juga. Tapi siapa mau dijajah? Kenapa kita bisa dijajah? Jaman itu kan memang jaman jajah menjajah. Yang Barat ke Timur, yang Timur ke Barat. Sederhana. Lha namanya peta belum komplit, sudah menjadi tabiat manusia untuk mencari tanah baru yang siapa tahu bisa dikeruk emas tembaganya, direbut buat bagi-bagi ke anak cucu. Yah, cuman apesnya, kita yang kalah, itu saja. Memaki sejarah sama saja dengan anjing kehilangan kencingnya, bingung, mau menandai daerah jajahannya tapi tidak kebelet.
Atau menyalahkan nasib kita yang terseret oleh nafsu keduniawian dan meninggalkan “esensi surgawi” yang kita nanti-nantikan.

Di Nusantara yang katanya jamrud khatulistiwa (tapi tinggal katulnya saja), politisi busuk selalu dibilang bukan orang seagama, atau rada lumayan, diklaim sebagai golongan “tidak taat beragama“ atau tidak “sejati“ dalam beragama. Padahal jelas-jelas dia haji, kalau jumatan ya jumatan, kalau hari raya ya berada di deretan paling depan. Orang yang liberalis, dijuluki pula telah menjual agama demi sesuap nasi dari para misionari. Ketika gayeng-gayengnya suasana pemilu, semua tulisan berwarna-warni, memoles dan mengelus, partai-partai. Tak ketinggalan pula partai golongan “hijau” yang santri-santri. Di milis berseliweran kampanye-kampaye, mulai dari yang sekedar menyinggung-nyinggung sampai yang terang-terangan, sampai-sampai ada yang kena cekal. Saling klaim, saling tuding, saling pojok-memojokkan, saling cibir-mencibir. Semua ada, tinggal pilih derajatnya saja yang berbeda-beda.

Pukul 1 lebih sedikit. Mata sudah mulai merah, perut rada keroncongan.

Otakku mulai ngawur, barangkali junkfiles itu sudah mulai berlompatan karena daya redam kafein yang mulai berkurang. Di keremangan antara kengawuran dan ketidakngawuran itu muncul virus-virus yang nakal. Aku tidak tahu mau diapakan, yang barangkali seperti trojan, merusak dari dalam. Aku mulai membayangkan tulisan-tulisan analisis model begituan bisa aku luluh lantakkan, tidak lagi bisa sepenuhnya aku percayai.

Pukul setengah dua, pas.
“Aku” (mestinya kita tahu siapa “aku” yang aku maksud ini) tak lebih dan tak kurang adalah seperti juga manusia lain, entah itu kulit putih, hitam, atau warna warni yang lain, atau seperti juga Yahudi Israel, Yahudi bukan Israel, Kristen, Buddha dan sebutan-sebutan seperti itu. Aku bukanlah makhluk istimewa yang dibikin oleh Tuhan. Kadang aku rajin tapi kadang sering juga malas. Aku merasa lapar dan dahaga, bisa jadi polisi, atau maling, atau keduaya sekaligus. Aku tidak perlu mengklaim diri sebagai bagian dari umat paling baik karena sampai saat ini, paling tidak saat ini, memang sama sekali tidak patut dihadiahi julukan seperti itu.

Tertanda
“Aku“
yang sedang dipengaruhi kafein.



Ambang
Juli 18, 2008, 11:11 am
Diarsipkan di bawah: Refleksi

Dalam melukiskan pergolakan batin antara ketidakpuasan melihat bagaimana manusia memperlakukan agama dan terlebih lagi terhadap -Tuhan dan resonansi hati ketika melakukan pembacaan teks-teks ilmiah maupun agamawi puisi-puisi ini mengalir dengan sendirinya mengiringi teks-teks ilmiah di sisi lainnya.

Saya merasa pikiran yang semakin menerobos ke relung problematika manusia, lantaran saya sedang mempelajari ilmu ruang dan bagaimana manusia memahami dan menjelajahinya, menghadirkan pemahaman baru tentang realitas adanya pemahaman keterpisahan antara yang dipahami dan dipikirkan sebagai sesuatu yang “di atas sana” dengan yang dilakukan dan terpraktekkan “di sini.” Problematika keruangan manusia ternyata tidak sebatas pada pengertian ruang dialektik yang abstrak sekaligus praktis itu tetapi menjangkau dan paralel dengan problematika manusia dalam memikirkan hal-hal yang lebih fundamental, misalnya tentang Tuhan atau yang lebih praksis tentang agama dan posisinya yang kadang terperosok atau diperosokkan dengan sengaja sebagai ideologi itu.
Kadang kala, bahkan sering, kita mendasari tindakan kita hanya dengan sepotong kebenaran yang dibungkus oleh imaji-imaji kita sendiri atau merekonstruksi kebenaran berdasarkan potongan-potongan yang disajikan oleh pihak lain. Dalam dunia yang semakin menyempit ini dan dimana kita bisa berinteraksi dengan semakin instan sayangnya kita justru tidak bisa menikmati kehadiran kebenaran hakiki. Kebenaran itu justru semakin jauh lantaran penyempitan ruang dunia itu hanya mungkin dengan mereduksinya menjadi potongan-potongan imajinasi yang bisa dipindah-pindah antar pikiran satu ke pikiran yang lain.
Teks yang dulu dianggap merupakan puncak “kemanusiaan” ternyata sangat tidak cukup untuk menunjukkan nilai kemanusiaan itu terhadap manusia yang lain. Ia menjadi terlalu mudah diplintir tetapi sekaligus terlalu sulit untuk bisa dipakai sebagai media pemindah pengertian yang memuaskan. Kebenaran dan pemahaman juga tidaklah seperti memori digital dalam komputer yang bisa dipindah tanpa kehilangan kode-kode esensial yang bermakna bagi pembacaan ulang.
Kebenaran dan pemahaman itu juga tidak seperti wahyu yang turun ke para nabi yang menggetarkan jiwa dan raga mereka. Namun berbeda dengan para nabi yang menerima wahyu dengan gemetaran dan kemudian bersimpuh, manusia sekarang merasa cukup kuat untuk mencari kebenaran, walaupun itu kebenaran wahyu sekalipun, tanpa dengan gemetar dan tersimpuh. Manusia sekarang seakan merasa cukup punya otoritas untuk tegar. Padahal salah satu esensi ketersimpuhan para nabi itu adalah cerminan perasaan ketakberdayaan menerima kebenaran. Manusia sekarang, barangkali sudah menjadi kodratnya, terlalu sombong untuk mencampakkan apalagi membunuh otoritas yang telah “dicapai“ olehnya. Padahal dengan bersimpuh para nabi menyatakan pendapat tentang keesaan, kekuatan, kebenaran dan ke-ada-an Realitas Tertinggi yang membungkam otoritas dan kedirian mereka. Namun alih-alih membungkam, manusia sekarang justru mencari otoritas itu dan terkadang malah melupakan, membungkam “Yang mempunyai otoritas hakiki.”
Agama-agama mengajarkan untuk berdoa “atas nama Tuhan” sebelum memulai suatu pekerjaan. Agama-agama ini memberitakan suatu kondisi bahwa manusia ketika akan melakukan hal yang menjadi otoritasnya sebenarnya hanyalah meminjam otoritas hakiki itu. Supaya manusia sekarang ingat bahwa ada tanggung jawab yang bersifat keilahian yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan kemanusiaan. Menjadikan tangan kita “tangan“ Tuhan  di dunia yang menciptakan kedamaian dan keadilan, bukan peperangan, kebencian dan penghisapan. Doa adalah proses bukan mantra yang secara instan menyuruh Tuhan untuk bertindak. Ia adalah ambang antara “pikiran di atas sana” dengan realitas “di sini.” Ia adalah dawai yang menghubungkan abstraksi dan realitas, antara yang tertulis dengan yang dirasakan, antara kerygma atau pernyataan-pernyataan dan pengalaman langsung emperi. Ia akan bergetar hebat tatkala keduanya menunjukkan “berpadu“, ia adalah dogma sebuah kebenaran yang tak melulu dari pernyataan dan pengalaman fisikal melulu tetapi juga melibatkan urusan pengalaman batiniah.

Sebuah usaha pemahaman totalitas ruang juga memerlukan pergulatan jalan ketiga di antara usaha memahami secara abstrak dan usaha secara nyata wadaqi, memahami melalui ruang antara yang di ambang kenyataan dan sublimitas.